Pembodohan Masyarakat dari Televisi

Sebuah dilema yang mungkin kurang begitu diperhatikan. Pembodohan yang dilakukan bukan melalui dunia pendidikan lagi. Bagi masyarakat sih tidak berdampak banyak. Namun bagi siswa yang dalam taraf belajar, hal itu bisa menjadi landasan pola pikirnya di dunia belajarnya.

1. Kuis

Beberapa hari yang lalu, ada kuis dari acara 4 mata seperti berikut kira-kira :

“Siapakah nama saudara Lia Ananta yang menjadi artis? a. Ati-ati kalau berjalan b. Asti Ananta c. Makan ati”

Perhatikan !

Siapapun orangnya, asalkan pikirannya normal pasti bisa menjawab. Tidak perlu menggunakan dasar pemikiran bisa menjawab. Hanya orang idiot saja yang tidak bisa menjawab.

Dalihnya agar hadiah bisa bergulir sehingga donasi jalan terus. Hanya dalam batas bisnis. Tidak ada pemikiran lebih jauh tentang otak anak-anak yang memperhatikannya.

Dampak bagi siswa adalah bila ada pertanyaan pelajaran sebagai sebuah kuisioner, maka otaknya tidak akan digunakan untuk berfikir lebih jauh, karena dalam otaknya berfikir “ah nanti juga terjawab”.

2. Sopan santun pergaulan dan berpakaian anak di sekolah / di masyarakat

Dengan dalih menampilkan realitas di masyarakat, maka yang disuguhkan adalah anak dengan pakaian dikeluarkan, semiran, gondrong, atau berpakaian seenaknya. Cara bicara kepada sesama, guru dan orang tua atau lebih tua ditampilkan nyeleneh dan jauh dari norma kesopanan bagi seorang siswa. Apakah itu menggambarkan secara umum dari kehidupan siswa-siswa di Indonesia?

Jawabnya TIDAK. Itu hanya terjadi ditempat tertentu saja. Namun karena ditampilkan di Televisi, maka banyak lapisan masyarakat yang semula masih murni bagus, maka berubah menjadi seperti yang di tampilkan Televisi. HANCUR.

Tidak terfikirkan bagaimana dengan kejadian yang ada seperti yang digambarkan di tayangan itu diubah menjadi lebih baik, agar semua siswa pemirsa menjadi lebih baik dan melalui jalan yang benar. Fikirannya hanya keuntungan dan keuntungan semata.

3. Pengulangan sifat kenakalan di setiap tayangan.

Perhatikan tayangan Si Entong.

Kenakalan memed cs yang selalu diulang. Hukuman penjeraan yang diterima diterima seolah tidak berpengaruh pada kepribadiannya. Tidak terjadi apa-apa dan bisa menghindar dari hukuman. Dengan setiap kali tayangan selalu terjadi kenakalan yang hampir sama. Hukuman-hukuman yang diberikan tidak ditayangkan dan dan tidak menjadikannya jera.

Hal itulah yang menjadi dasar pertumbuhan pola pikir anak.

HANCUR…HANCUR….HANCUR…

Ini hanya sebagian kecil saja, hal-hal yang membahayakan dan membodohkan masyarakat.

Mencuri adalah Kejahatan.

Memberi nafkah harta kepada keluarga adalah wajib bagi kepala keluarga.

NAMUN, bukan berarti mencuri untuk memberi nafkah keluarga itu menjadi tidak jahat. Tetap saja Kejahatan.

Menyampaikan kenyataan dengan jujur itu baik.

Mengajarkan keburukan / kejahatan itu adalah awal dari kesalahan.

Bukankah menyampaikan kenyataan buruk dengan image nyata itu adalah mengajarkan keburukan kepada orang yang belum pernah melakukan. Apalagi tidak ada image tindak lanjutnya / akibat buruknya.

HANCUR…hancur….

Demokrasi dan kebebasan yang disalahgunakan.

Satu Balasan ke Pembodohan Masyarakat dari Televisi

  1. TRISNI mengatakan:

    BLOGGERNYA OK JUGA….
    kuis 1. makan ati ja deh… masa kaya gitu dipikirin
    mending mikir yang lainnya…
    pak riyadi aku minta emailnYA… SUKSES FKGPTT….!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: