Menampilkan realitas namun berdampak terpuruk

Kekhawatiran selama mengetahui tayangan televisi tentang dunia remaja di sekolah-sekolah terbukti sudah. Maksudnya (mungkin) untuk memberitahukan realitas dunia remaja sekarang, namun yang ditayangkan justru dunia remaja yang notabene negatif. Komposisi tayangan untuk kehidupan positif dengan negatif remaja bisa dibilang 10:90. 10% adalah tayangan dunia remaja yang positif, 90% adalah tayangan negatif. Ini hanya perkiraan penulis saja.

Kebanyakan tayangan adalah bagaimana sudah lazimnya baju seragam yang tidak dimasukkan celana atau rok. Lengan baju yang dilipat. Potongan rambut yang aneh. Komunikasi dengan guru yang tidak pas. Cara bicara yang sok gaul. Kejahilan anak sekolah. Geng. Permusuhan antar siswa. Percintaan antar siswa. Kesalahan yang ditertawakan. Pelanggaran siswa yang tidak ada solusinya dan selalu bisa terulang.

Apakah banyak tayangan siswa yang serius dengan belajarnya, semangat belajarnya, mengenakan seragam sekolah rapi, komunikasi dengan guru yang sopan, keseriusan / antusiasme mengikuti pelajaran. Ada tayangan anak sekolah yang mengenakan pakaian rapi, sopan, sisiran rambut yang rapi, tapi apa daya? Biasanya adalah anak culun dan sering menjadi bahan tertawaan. Kalau tayangan siswa cerdas selalu menjadi olok-olokan.

Apakah sutradara film itu tidak berfikir akses buruknya lebih besar daripada akses baiknya? Atau memang industri film itu sudah tidak berfikir tentang masa depan generasi muda bangsa. Yang penting fulus dan fulus selalu membesar?

Kalau diamati, penulis sebagai seorang pengajar juga merasakan dampaknya pada siswa sungguhan. Banyak diantara siswa baik laki-laki maupun perempuan yang sudah mengenakan baju tidak dimasukkan celana atau rok. Bisa jadi memang baju tersebut dijahit dengan potongan pendek. Pikiran anak sudah tidak lagi pada peraturan sekolah. Pikiran anak sudah pada mode, tapi mode tiruan yang salah.

Anak tidak berfikir bagaimana dengan kondisi dirinya tersebut bisa mematuhi peraturan sekolah. Tetapi anak berfikir dengan kondisi dirinya tersebut bisa menghilangkan butir peraturan sekolah. Anak tidak berfikir bagaimana dengan bajunya yang pendek itu jangan sampai tidak dimasukkan ke dalam celana/rok. Tetapi anak berfikir dengan baju yang potongannya pendek tersebut akan dimaklumi dan tidak dinilai melanggar peraturan.

Hancur deh…

Tontonan sudah menjadi tuntunan. Peraturan sebagai tuntunan hanya menjadi tontonan dan olokan.

Kesalahan yang ditampilkan seolah menjadi hukum untuk melegalkan dan membenarkannya. Tidak hanya didunia sekolah. Penulis fikir ini terjadi di beberapa bidang kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: