HANCURNYA TATANAN ANAK DI SEKOLAH

Apa yang ingin saya tulis ini benar-benar terjadi. Mungkin juga terjadi di beberapa tempat. Tapi bukan berarti saya telah mengeneralisasikan hal ini terjadi di tingkatan yang sama. Dunia pendidikan SMP.
Kasus pertama :
Anak yang sudah sekolah, ada atau bahkan banyak orang tua yang menyerahkan sepenuhnya kepada sekolah, setahunya sekolah itu tempat mendidik anaknya sehingga menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, dan sukses.
Mengenai hal pertama ini, orang tua lepas dari berfikir bahwa dunia di sekolah kira-kira hanya sepertiga waktu dari anak. Selebihnya anak ada di rumah, dan dunianya sendiri. Jumlah guru hanya sekitar 10% dari jumlah anak. Dalam perbandingan 1 orang guru bertanggungjawab lebih dari 10 siswa. Karakteristik anak adalah membawa yang di luar sekolah ke dalam dunia sekolah. Ada pula yang membawa karakter dari sekolah ke dalam lingkungan luar sekolah.
Ada orang tua yang bersumpah bahwa anaknya itu baik, dengan dasar perhatiannya di rumah, sehingga ketika dipanggil sekolah dan diberitahukan bahwa anaknya suka membantah guru, berkata sembarangan bahkan suka membuat gaduh, orang tua dengan keyakinannya tidak percaya akan kelakuan anaknya. Bagaimana ini?

Kasus kedua :

Ada beberapa anak yang “suka” melanggar peraturan sekolah, tidak masuk ketika ada tambahan pelajaran, ijin pulang karena sakit tapi ternyata menunggu teman di luar sekolah untuk segera keluyuran, pokok intinya anak akan berusaha bagaimana menghindar dari suatu mata pelajaran yang tidak disukai. Padahal kalau anak sudah bisa berfikir, apapun yang ada di “depan”nya haruslah dilewati, tidak boleh tidak, karena memang itulah jalannya sekarang.

Masih ada kaitannya, anak menyemir rambut, suka berkata kotor, lidah di tindik, pada saat pelajaran sering menyalahgunakan Handphone, SMSan, ngegame atau yang lain. Masalah HP, orang tua sering dipanggil untuk diberitahu. Tidak hanya sampai disitu, terakhir kejadian paling menyedihkan adalah pada saat hari sabtu jam pelajaran terakhir, anak perempuan dengan rok biasa (bukan busana muslimah) mbolos sekolah dengan cara melompati pagar tembok setinggi 2,5 meter. Karena tertangkap basah keamanan sekolah, al hasil, guru BK yang sudah habis kesabaran mendamprat dengan kata-kata “sudah tidak perawan”.

Mengenai kasus kedua ini, orang tua si anak yang kena damprat merasa tersinggung dan akan memperkarakannya melalui hukum.

Pertanyaan : Kalau anak itu tidak tomboy dan tidak ada pengembangan diri panjat tebing, pantaskan anak yang seharusnya masih menjaga kesucian tingkah laku dan dirinya melakukan hal tersebut?

Kasus ketiga :

Kejadian-demi kejadian yang dilakukan anak, padahal sudah ditangani dengan cara pembinaan dan peringatan tetapi tidak pernah mereda. Sampai-sampai membuat beberapa guru sampai menyatakan tidak mau mengajar. Kejadian yang berawal dari kasus kedua terjadi. Kali ini anak laki-laki.

Seorang guru karena sudah jenuh dengan memberi penjelasan di kelas karena tidak pernah diperhatikan (tentu saja hanya beberapa gelintir anak) mengalihkan sistem pembelajaran dengan fasilitas home teater. Anak memperhatikan penjelasan melalui video untuk kemudian menjawab pertanyaan, dengan bimbingan gurunya. Guru tetap memperhatikan aktivitas anak, ada seorang anak laki-laki yang diperingatkan beberapa kali untuk memperhatikan ke video.

Karena penasaran, didekatinya si anak kemudian ditarik pelan sedikit rambut kepala dibagian atas untuk memperingatkan kembali, apa yang terjadi?

Si anak bilang “Bu, kalau saya visum, ibu dapat saya perkarakan!”

“DUERRR”!!!

Terus terang. Dengan segala emosional, guru menantang si anak untuk segera memperkarakan, selanjutnya guru menanyakan kenapa sampai melakukan itu.

Si anak menjawab “Saya nggak melakukan apa-apa koq ditarik rambutnya!”

Padahal apa yang dilakukan anak?

Si anak sedang mengerjakan tugas rumah yang sudah diberikan 2 minggu sebelumnya, padahal tugas tersebut seharusnya sudah diselesaikan dalam waktu 1 minggu.

Kasus keempat :

Masih ada hubungannya.

Pernah ada berita televisi yang menayangkan bahwa ada seorang guru yang menampar anak dan diperkarakan secara hukum. Anak dibela oleh Lembaga Perlindungan Anak sedangkan guru tidak ada yang membela. Di tayangan tersebut, terlihat anak yang menjadi korban tamparan adalah anak yang tidak taat aturan sekolah. Kalau pemirsa adalah seorang pengajar pasti tahu ciri-cirinya.

Tanpa mengusut lebih dalam lagi kenapa sampai sang guru menampar, hukum menyalahkan guru.

Tahukah kenyataan di dunia pendidikan sekarang ? Secara garis besar :

1. Anak sudah tidak punya sopan santun kepada guru.

2. Anak sudah tidak mempunyai semangat untuk maju dan belajar sungguh-sungguh.

Walaupun sudah selalu diajarkan bagaimana sopan santun, selalu diberikan dorongan untuk belajar.

Itulah anak sekarang.

Sudut pandang ini hanya dari penulis yang merasa miris dengan kejadian-kejadian tersebut. Dan kemungkinan besar tidak terjadi di sekolah-sekolah unggulan maupun yang berstandar Internasional karena memang bibit anak sudah beda jauh.

Tidak sepenuhnya penyebab tersebut adalah dari siswa. Karena yang berperan didalam dunia pendidikan anak adalah guru, orang tua dan lingkungan.

Kapan kira-kira Guru mendapatkan Perlindungan???

Kalau Guru tidak ada perlindungan hukum untuknya, alamat kehidupan negara ini siap hancur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: